Tak punya media sosial maka tak gaul. Itulah istilah yang tepat di era digital seperti sekarang ini. Wikipedia mendefinisikan media sosial (social media) sebagai sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.
Di zaman yang maju dan serba canggih ini, tidak dipungkiri bahwa media sosial merupakan kewajiban yang harus dimiliki oleh setiap orang. Bukan era modern jika tidak mengumbar sesuatu di media sosial. Memang benar, dengan adanya media sosial dapat memudahkan untuk membagikan moment atau perasaan yang dirasakan pada saat tertentu, namun kewaspadaan akan dampak negatifnya harus tetap dipikirkan juga.
Kebebasan berpendapat dan berekspresi menjadi nilai tambah bagi media sosial. Komentar sesuka hati dan berkreatifitas sesuai keinginan dapat dilakukan. Akan tetapi, ketidak hati-hatian dalam menulis komentar ataupun kata-kata di media sosial dapat menyebabkan saling sindir, hujat-menghujat, hingga menebarkan hoax. Hal diatas mungkin sudah menjadi ciri khas dari media sosial masa kini. Bahkan akun-akun gosip pun sudah mulai membeludak, terlebih di instagram. Entah apa yang mendasari tujuan pemilik akun yang suka berghibah tersebut untuk membuat akun seperti itu.
Secara ekstrem, orang yang membenci seseorang atau biasa disebut dengan haters, meruap. Mereka mengutarakan argumen-argumen menggunakan kata-kata kasar tanpa memikirkan perasaan orang yang mereka hujat. Terlebih, mereka juga membuat akun kumpulan haters, contohnya ayutingting_haters (instagram). Bagaikan gawai tanpa data internet. Mereka adalah orang yang mempunyai ilmu tetapi tidak dimanfaatkan ilmunya. Kesibukannya hanya mengurusi hidup orang lain yang belum tentu peduli juga kepada mereka. Satu kata cacian yang diungkapkan di media sosial bisa berujung panjang. Pengguna media sosial yang lain dengan mudah menilai seseorang sesuai apa yang diucapkan. Nama baik yang tercoreng atau bahkan jeruji penjara bisa jadi harga yang perlu kita bayar.
Tidak harus dihebohkan dengan kontroversi, media sosial sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk menebar kebaikan atau hal yang lebih bermanfaat. Dalam bidang pendidikan, media sosial dapat digunakan sebagai sarana belajar yang efektif dimana siswa maupun guru dapat berkolaborasi, berekspresi, dan mengasah kreativitas dengan mengaskesnya, mengingat karakteristik siswa zaman now yang tak lepas dari media sosial. Selain itu media sosial juga dapat digunakan untuk mempromosikan dagangan bagi yang berbisnis, membantu menggalang dana untuk yang membutuhkan, bergabung komunitas untuk mencari ilmu baru, dan masih banyak lagi. Media sosial sebenarnya banyak memberikan dampak positif ketimbang dampak negatif, namun itu semua kembali ke diri kita dengan bagaimana menyikapi dan memfilternya.
Segala hal yang kamu posting ke media sosial berdampak pada nilai kepribadianmu, yaitu tentang bagaimana kamu ingin dikenal.
Profil Penulis :
Haniva Pratami Nur’apriliani
NIM : P2A121005
Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan
Kereennnn